Penasaran!
Aku terheran-heran mengapa kau masih saja membelakangiku. Tidak enak rasanya hanya memandang punggungmu saja. Ayo manis! Coba berbalik, sekali-kali aku ingin memandang matamu lekat-lekat. Memaknai satu per satu pancarannya, lalu menerka-nerka apa arti senyum simpulmu itu ketika secara tak sengaja mata kita berada pada satu garis horizontal.
Kamu itu mewah, dibalik semua kesederhanaan yang kau pancarkan. Sungguh! Tenangmu itu menghanyutkanku. Mendekatlah sedikit lagi. Sedikit lagi.
Waktuku dan waktumu tak banyak. Dan diammu itu sungguh menggemaskan!
Aku dalam keadaan tidak tenang sekarang. Sambil terus berpikir bahwa kau sering memikrkanku.